Apa yang salah dengan kurikulum menteri Gajah ?
Posted by admin | Posted in Ngomong | Posted on 24-11-2006
9
Cerita ini kebetulan saya dengar di radio Smart FM suatu malam waktu dalam perjalanan pulang kerumah plus bumbu mie, minyak samin, telor setengah matang, ngantuk en ngelfy sehabis minum obat :-).
Syahdan, disebuah hutan di negeri antah berantah di selenggarakan sebuah sekolah yang mengadaptasi kurikulum manusia. Sekolah ini merupakan hasil kerjasama menteri pendidikan Gajah dengan pihak manusia. Tentu saja dengan sepengetahuan Raja hutan Harimau . Lulusan sekolah ini nantinya akan di anggap setara dengan manusia, hal ini membuat banyak binatang tertarik dan mendaftar ke sekolah itu. Kurikulum yang diberikan lumayan gampang meliputi pelajaran terbang, berenang, menyelam, memanjat pohon serta berlari. Siswa harus lulus semua pelajaran ini jika ingin mendapatkan surat tanda tamat belajar. Semua siswa terlihat antusias dan menyambut baik adanya seolah yang bisa mengangkat harkat dan martabat mereka ini.
Dalam waktu singkat segera terlihat binatang yang kompeten di bidangnya menjadi raja untuk pelajaran tertentu.
Elang, dengan kemampuannya untuk terbang cepat dan tepat mengenai sasaran membuatnya tidak terkalahkan untuk bidang terbang.
Kancil, dengan daya larinya yang cepat dan elegan membuat binatang lain cuma bisa manggut-manggut dan geleng-geleng melihat mereka tidak bisa melampaui kancil untuk urusan ini.
Tupai, dengan kemampuan melompat antar pohon membuatnya menjadi raja panjat plus loncat. “Luar biasa” gumam binatang yang lain.
Buaya, dengan keahlian khusus berenang en menyelam membuatnya menjadi raja diraja dunia air di kelas itu.
Bebek, menjadi peserta yang menggembirakan kawan-kawannya, kemampuan larinya yang lucu, megal-megol bak peragawati menjadi bahan ejekan kawan-kawannya :-)
Karena keharusan bahwa yang bisa lulus dari sekolah itu adalah yang bisa mengikuti semua pelajaran dengan nilai bagus, membuat awal dari kekacauan yang terjadi.
Elang hampir mati di pelajaran menyelam, bebek hampir tewas di pelajaran memanjat. Buaya yang tubuhnya lebam karena tidak bisa terbang. Bebek gegar otak karena jatuh dari pohon yang berusaha di panjatnya.
Cita-cita akan gelar serta ketenaran yang bisa di raih setelah lulus dari sekolah itu membuat para binatang melupakan rasa sakit dan derita. Terus fokus pada pelajaran lain yang dirasakan sulit di kuasai, bahkan kalau perlu kursus sama ahlinya. Membuat lama kelamaan masing-masing peserta di kelas itu mulai lupa akan kemampuan asli yang merupakan ciri khasnya.
Elang tidak lagi bisa berburu makanan dengan mudah karena kalah gesit dengan binatang buruannya, Kancil tak lagi bisa lari kencang karena paru-parunya basah gara-gara pelajaran menyelam , Buaya hampir lupa bagaimana cara untuk berenang karena fokus belajar manjat pohon dan terbang.
Akhirnya mereka semua lulus bersyarat dan kembali ke masyarakat mereka dengan gelar “disamakan”. Tapi hukum rimba yang “kejam” membuat mereka tidak mampu bersaing dengan hanya mengandalkan gelar mereka. “Mereka justru harusnya bisa cari makan sendiri dengan lebih mudah, kan lulusan sekolah”, begitu anggapan kalangan binatang yang tidak ikut sekolah itu. Hukum rimba yang keras memaksa mereka menjadi keras atau terseret menjadi makin lemah dan mati. Tidak ada pilihan lain bagi yang ingin bertahan hidup kecuali menekuni kembali keahlian yang dari dulu sudah jadi kemampuan asli mereka.
Setelah sekian lama menggali lagi kemampuan asli mereka akhirnya mereka berhasil menguasai lagi kemampuan asli mereka, itupun harus di bayar dengan harga mahal, rekan alumni yang tidak mampu bertahan selama proses pembelajaran kemampuan harus rela menjadi korban proses eliminasi.
Salahkan binatang yang ikut sekolah itu ?
Salahkan penyusun kurikulum untuk sekolah itu ?
Apakah standar kelulusannya yang terlalu ketat ?
Tidak bolehkan binatang memfokuskan kepada keahlian yang di kuasai untuk di kembangkan lebih jauh ?
Menteri Gajah kurang perhatian ?
Raja hutan Harimau yang kurang peka ?
Sementara terjadi silang pendapat yang isinya pro kontra seputar kasus itu sekolah tetap jalan.
Yang pasti sekolah itu kembali membuka penerimaan untuk angkatan baru :-)




good posting sobat..
Ada lucu & ada juga nilai positif nya cerita itu.salam kenal sobat….
Menginspirasi, semua hrz kembali ke asal,.. Dg kelebihan msng2 duni akn lebih indah dan bs saling melengkapi..
gajah juga bisa sekolah ya.. mantap
ha ha ha. Saya jadi ingat pernah dapat materi di Seminar Menembus Batas. Kata motivator saat itu, bukan menguasai semuanya, tapi optimalkan yang sudah kita punya. Fokus pada kelebihan kita. Fokus pada yang kita enjoy melakukannya… Gitu kira kira…
Mantep, sangat menyentuh bahasanya. halus dan kena banget.
yesn good article…
Kurikulumnya untuk mencari raja atau untuk mendidik anak didik?
begitu sulit untuk menjalaninya bahkan tanpa kusadari aku adalah bagian dari mereka (binatang) ituh, penyesalan selalu dibelakang tanpa kusadari semua telah berubah menjadi strezzzzzzzzzzzzzzzzz terlalu banyak penat yang ditanggung akankah semua itu berakhir, jika semua itu berakhir alangkah tidak adilnya bagi kami yg telah kembali kemasyarakat dengan status manusia bodoh………………………., !