Jangan Terlalu Serius Boi!


Ini hiburan semata , itu modal yang saya siapkan untuk membaca Maryamah Karpov seri pamungkas dari tetralogi Laskar Pelangi. Dengan alasan untuk menjaga bioritmik dan kesehatan saya mencoba untuk mengerem keinginan kuat untuk selesai dalam satu jurus malam.

Ternyata gagal, cuma butuh waktu dua malam saja untuk menamatkan untaian cerita yang juga memancing nostalgia masa kecil ini. Saya terlanjur larut dalam sihir berbentuk novel dengan lembar sekitar 700 halaman itu.

Yup, sesi sidang tesis memang seru. Tapi bagi saya lebih seru proses sehari-hari menjelang sidang itu sendiri, walaupun tidak kuliah di Jepang tapi tradisinya terus di bawa oleh dosen saya. Sehingga ada proses belajar dalam bentuk :

Lelaki berwajah dangdut, judul itu membuat saya terpingkal-pingkal karena prediksi saya salah besar setelah menebak dari urutan lagu dan karakter penumpang tamu saya dengan yakin sekali bahwa lagu yang akan di putar untuk Ikal itu PASTI ‘Darah Muda’ . Tapi jelas  bahwa lagu ‘Perdamaian’ sama sekali bukan lagu Rhoma Irama.

Cukup. Untuk lembaran-lembaran berikutnya saya sudah mempersiapkan mental ala Joker ‘why so serious‘ anggap bacaan ini hiburan dan harus di nikmati dengan santai, wafer dan teh susu di siapkan untuk menemani.

Menjemur baterai untuk ‘recharge‘ itu juga biasa saya kerjakan jadi hanya bisa tersenyum simpul membayangkan kenangan itu. Tapi baterainya tidak sampai babak belur lecetnya seperti yang nampak di film Laskar Pelangi. Cukup untuk mendengarkan sandiwara radio seperti Saur Sepuh, Mak Lampir, Tutur Tinular, Misteri Nini Pelet dan lain-lain sampai tiba waktu makan.

Damn….it’s so true when Ikal once more describe about his father. Ayah saya juga seorang yang tidak suka banyak omong walaupun tidak sampai sependiam ayah Ikal. Keras dan disiplin dalam mengajar ngaji mengingatkan saya akan film anak-anak He-Man yang tayangnya justru di waktu sholat Maghrib. Tv harus di matikan sambil terus mengarahkan bacaan saya yang keliru gak perduli saya lagi memasang wajah mewek nan memelas.

Gelaran yang unik dan kocak, ini mengingatkan saya pada cerita Pak Belalang yang pernah di tayangkan di TVRI. Saya begitu terkagum-kagum melihat tokoh yang malasnya minta ampun bisa terus beruntung di saat yang tepat. Sayang pencarian di google mengarahkan saya pada video YouTube dan Wikipedia yang menunjukkan bahwa ini cerita milik Malaysia.

Dalil Lintang, bagian ini dengan jelas mengingatkan saya pada kemalasan saya belajar elektronika dan kesalahan kurikulum SMP saya dulu. Pelajaran Tata Boga mengharuskan saya mengingat resep cara membuat Risoles dan teknik menggoreng ayam padahal saya ingin belajar elektronika yang ternyata di ajarkan di kelas lain dan entah mengapa tidak di ajarkan untuk kelas kami.

Justru pertemuan Ikal dan Aling yang saya tunggu menjadi tidak lagi menarik buat saya, saya lebih memilih menikmati proses taruhan dan apa yang di pertaruhkan sampai tradisi memegang kuping tanda taruhan sah di mulai. Bagian ‘Si pelupa’ yang kalah taruhan dan dengan lihai bersilat lidah menghindar ala pokrol bambu sangat mengasikkan untuk di ikuti.

At least, ini Sastra Melayu jadi ……

Jangan terlalu serius Boi!  hehehehehehehehe

Avoir une belle journée

Beberapa review seputar Maryamah Karpov :

Incoming search terms for the article:

Ngomong

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Comments

7 Responses to “Jangan Terlalu Serius Boi!”

Leave Comment

(required)

(required)