Featured Posts

Error for Profit Proses migrasi hosting akhirnya kelar juga. Jumlah domain + subdomain yang di pindah hampir mendekati 40 an membuat proses nya harus di lakukan dengan hati-hati dan di data terlebih dahulu dengan bantuan...

Read more

Berburu traffic via traffic exchange Berburu traffic itu susaaaaaah loh! Itu kesimpulan sementara saya setelah beberapa hari mencoba berburu traffic dengan modal miring via jasa traffic exchange. Berikut hasilnya : Menggunakan Entrecard. Dari...

Read more

Coca Cola : Buka Semangat Baru hello teman semua ayo kita sambut, hari baru telah tiba apa yang kurasakan, ku ingin engkau tahu dan berbagi bersama *reff buka kita buka hari yang baru sebagai semangat langkah ke depan jadi...

Read more

Pilih Program Affiliasi atau PPC Buku-buku bertema 'cara mencari uang lewat internet' makin banyak dan makin mudah ditemukan di toko buku. Seminar-seminar juga tambah laris bahkan banyak juga yang rela untuk merogoh koceknya agak dalam...

Read more

Treatment buat halaman mati kutu ala stt Bencana akibat plugin sakti mandraguna yang namanya 'searchTermTagging' membuat salah satu posting ngetop di blog istri saya menjadi tidak bisa di akses dengan pesan error kurang memory. Hah! Bisa di...

Read more

Totto Chan : Tribute to Sosaku Kobayashi

Posted by admin | Posted in Ngomong | Posted on 22-12-2008

Tags: ,

6

Judul novel ini muncul dalam salah satu kunjungan silaturahmi saya ke tempat rekan kerja, Vina menyebut judul ini sebagai judul yang tak kalah hebat di banding laskar pelangi yang sudah duluan saya baca hingga seri terakhir Maryamah Karpov. Celetukan bahwa ini cerita untuk ‘anak perempuan’ tidak menyusutkan niat saya untuk menenteng novel ini kemana-mana, di dashboard mobil, baca di lobby kampus sampai di sela-sela makan siang. Ceritanya asik sih :-)

Bercerita tentang masa kecil Tetsuko Kuroyanagi yang rada badung, tidak perlu waktu seminggu untuk di pecat dari sekolah lama karena sikapnya yang hiperaktif dan ‘mengganggu’ sepanjang jam belajar. Sang Ibu yang bijak memoles peristiwa pemecatan itu dengan baik dengan menantang puterinya untuk pindah ke sekolah yang lebih rame dan gokil abis dan baru memberitahukannya 20 tahun kemudian.

Sekolah dasar Tomoe adalah sekolah dengan kurikulum yang unik, tempat belajarnya di rel kereta api yang sudah tidak berfungsi lagi. Sang kepala sekolah, Mr. Sosaku Kobayashi mempesona Totto Chan di hari pertama karena mampu mendengar kicauan mulut mungilnya hingga selesai ( menghabiskan waktu 4 jam dan tepat masuk jam makan siang).

Lembar demi lembar berikutnya membuat saya terkagum kagum, komposisi kurikulum yang ada  di susun dengan mengakomodir banyak aspek pendidikan yang bertujuan memaksimalkan potensi tiap anak.

Tidak ada bangku tetap untuk tiap anak, semua milik bersama dan di jaga bersama. Lalu pelajaran yang di ajarkan dari hasil ’survey awal’ minat tiap siswa. Prinsipnya jelas ‘pilih salah satu yang kalian suka’. Makin manggut manggut saja saya membacanya, kelihatan guru yang menguasai seni dan kejiwaan lebih bisa merancang dan menghasilkan ’sesuatu’.

Hari-hari berikutnya proses belajar di Tomoe makin mengasikkan dan siswa belajar dengan antusias, datang pagi-pagi dan pulang telat tapi tetap semangat.

Yuk kunyah baik-baik,

Semua makananmu;

Yuk kunyah baik-baik,

Nasi, ikan, sayur!

Di ikuti dengan ucapan ‘Itadakimasu’. Senantiasa menemani proses makan anak-anak Tomoe.

Melarang anak untuk tidak melakukan hal yang tidak baik jangan serta merta tapi efeknya jelek, itu yang saya kaitkan mengenang ibu saya dulu. Beliau selalu kewalahan melarang anak semata wayangnya aktif mencari ikan, pergi ke pinggir sungai dan mancing selagi air dalam sudah cukup menghawatirkan, masuk ke hutan untuk mencari umpan ikan yang bagus membuat ibu saya berfikir keras untuk mencari cara yang jitu, akhirnya ketemua juga solusinya. Kalimat pendek dan tepat ketujuan :

“Nanang, boleh kok cari ikan, tapi kalau dapat nanti kasih ke mamak ya. Nanti mamak masak untuk Nanang”

Ya, jitu sekali kalimat ini. Pancing, jala, listrik dan istilah-istilah lainnya segera menguap dari kamus aktivitas pulang sekolah saya bertahun kemudian. Jelas saja saya manut je, saya kan gak suka makan ikan, cuman suka cari ikan :-)

Guru tamu ‘pak tani’ datang mengajar murid-murid mendemokan apa yang dia tahu, rasa hormat yang muncul dari anak-anak setelah seharian berkutat praktek bersama menunjukkan bahwa pelajaran saling menghormati juga bisa di tumbuhkan, acara TV ‘jika aku menjadi‘ juga contoh yang baik acara TV yang mendidik.

Menari, bernyanyi bersama dan melakukan kegiatan belajar dengan riang gembira di selingi dengan lomba dan berenang bersama membuat rasa memiliki dan kebersamaan makin kuat.

Mr. Sosaku Kobayashi sendiri bukan tidak berpendidikan, belajar euritmik di Paris dengan dukungan finansial dari Baron Iwasaki, keluarga industrialis pendiri perusahaan Mitsubishi. Kembali ke Jepang dan mendirikan asosiasi Euritmik Jepang sambil mendirikan Tomoe Gakuen di tahun 1937.

Tidak sia-sia, melihat bagian epilog nya :

Akira Takahashi yang berbadan kecil jadi insinyur listrik dan melatih tenaga-tenaga muda.

Taiji Yamanouchi menjadi salah satu ahli Fisika ternama, hasil pencarian di menunjukkan beberapa jurnal dan ini fotonya.

taiji-yamanouchi

Banyak lagi lulusan Tomoe  Gakuen  yang muncul tapi baca sendiri ya hehehehehe.

Keren habis nih, Sosaku Kobayashi sang arsitek jenius hal-hal besar lewat anak-anak.

Makin keren kali ya jika di negeri ini yang jadi PNS itu lulusan terbaik dari ITB, UGM, IPB dsb dan terjun jadi guru, tapi kayaknya gak deh secara imbalan materinya gak sebanding :-)

Tapi bukan berarti kemungkinan itu tidak ada, buktinya tes CPNS di BPPT bisa semeriah pesta blogger kok.

Bukan suatu hal yang mustahil kok memancing para jenius menjadi guru (bukan dosen ya), pastikan dulu caleg nya minimal S1 baru bisa mikirin solusi yang berpihak ke bidang pendidikan dan full support program kerja gubernur yang membela pendidikan.

Kasih rumah + mobil dan 4 gaji (gaji sapa ya hehehehe) mungkin bisa menarik ’sebagian’ jenius dengan potensi Umar Bakri mengejar status Ceria Pegawai Nan penuh Senyum (pinjam istilah Pak Tri).

Bonne nuit tout le monde

Comments (6)

Kalo nda salah ini barang yang sudah cukup lama ya? soalnya dulu pernah megang, walau tdk sempat diselesaikan karena keburu entah kemana bukunya

alam : betul, ni buku dah lama tahun 80 an :-)

wah, ini favorit na aku banget nih Nang. Dulu agak susah nyarinya. Pas dapet di gramedia empat tahun lalu, cuman tinggal satu, agak lecek juga sampulnya. Tapi tetep aku ambil. Dan ga sia-sia aku beli. Bahkan dah dibaca berkali-kali.
Setelah merit, aku hadiahkan buat istri (yg seorang guru TK). Dia seneng banget!

sepertinya menarik, makasih atas ulasanya :D

pernah liat bukunya, tapi ga pernah baca isinya :D

dah lama banget nih, ampe baca 2 kali saya ….

uhm…aku terkagum-kagum dengan cara Mr.kobayashi yang sangat mengerti dengan dunia anak yang terkenal dengan segala macam fantasinya…andai ada sekolah kayak Tomoe Gakuen..Belajar di gerbong kereta..
Keren,keren..

Write a comment